Dapur MBG Jember Bermasalah, Siswa Jadi Korban

 

Ketua Satuan Tugas Makan Bergizi Gratis dan Pejabat Sekretaris Daerah Jember Achmad Imam Fauzi


JEMBER, Suarasatu.co.id - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Jember, Jawa Timur, kembali menjadi sorotan setelah dua insiden serius terjadi dalam waktu hampir bersamaan. Belasan siswa taman kanak-kanak diduga mengalami keracunan usai menyantap menu MBG, sementara satu dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dilaporkan terbakar akibat dugaan kebocoran instalasi gas.

Insiden keracunan terjadi pada Rabu (20/5/2026). Ketua Satuan Tugas MBG Jember sekaligus Pejabat Sekretaris Daerah Jember, Achmad Imam Fauzi, mengungkapkan sebanyak 18 siswa berusia empat hingga tujuh tahun mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan dari SPPG di Kecamatan Kaliwates.

Para korban berasal dari TK Roudlotul Tullam, TK Hidayatullah Muttabi’in, dan PAUD Aster 29. Dari jumlah tersebut, empat siswa harus menjalani perawatan inap di Rumah Sakit Kaliwates, sementara dua lainnya dirawat di Puskesmas Kaliwates dan Puskesmas Jember Kidul. Sisanya menjalani rawat jalan.

“Empat orang anak opname di Rumah Sakit Kaliwates, seorang anak dirawat di Puskesmas Kaliwates, seorang anak di Puskesmas Jember Kidul, dan lainnya dirawat jalan,” ujar Fauzi, Kamis (21/5/2026).

Pemerintah Kabupaten Jember menduga keracunan dipicu makanan MBG yang diproduksi SPPG di Jalan Teratai. Fauzi menegaskan pihaknya akan mengambil langkah tegas terhadap pengelola dapur tersebut.

“Kami akan tegas meminta penutupan SPPG tersebut,” katanya.

Fauzi juga mengungkapkan bahwa sebelum kejadian, laporan terkait kondisi SPPG itu telah masuk melalui kanal pengaduan masyarakat Wadul Guse. Satgas MBG disebut akan melakukan inspeksi menyeluruh terhadap dapur-dapur MBG di tingkat kecamatan guna mencegah kejadian serupa.

“Atas nama Bupati Jember, kami menyesalkan kejadian ini dan meminta maaf kepada korban serta orang tua korban,” ujarnya.

Sorotan keras juga datang dari DPRD Jember. Sekretaris Komisi C DPRD Jember, David Handoko Seto, menyebut insiden tersebut sebagai bentuk kelalaian serius dalam pengawasan kualitas makanan untuk anak-anak.

“Saat berangkat sekolah, anak-anak itu baik-baik saja. Jam sembilan MBG diantar ke sekolah dan mereka santap. Jam 10 mulai ada tanda-tanda lemas dan pucat. Sesampai di rumah, anak-anak muntah dan diare,” kata David.

Ia mendesak evaluasi total terhadap operasional SPPG, termasuk pemeriksaan izin dan standar kelayakan dapur MBG yang beroperasi di Jember.

“Kalau perlu dicabut saja izinnya. Keselamatan anak-anak jauh lebih utama daripada sekadar mengejar distribusi menu MBG,” tegasnya.

David juga meminta seluruh pihak yang bertanggung jawab di SPPG diperiksa, termasuk sistem pengawasan dan prosedur pengolahan makanan.

“Ini warning bagi seluruh SPPG di Jember agar tidak main-main dengan kualitas menu MBG. Keselamatan harus menjadi prioritas utama,” ujarnya.

Di hari yang sama, insiden lain terjadi di dapur MBG di Jalan Semeru, Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Sumbersari. Dapur tersebut terbakar sekitar pukul 14.56 WIB diduga akibat kebocoran instalasi jaringan gas pada ruang oven pengering wadah makanan.

Anggota Unit Pelaksana Teknis Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Regu B Pemkab Jember, Sony Ari Wicaksono, menjelaskan terdapat saluran pipa lama yang tidak digunakan namun hanya ditutup menggunakan kran biasa.

“Ada saluran pipa pada pembangunan awal yang bertujuan untuk pengering ompreng, tapi tidak jadi digunakan dan ditutup hanya menggunakan kran biasa,” ujarnya.

Diduga kran tersebut tersenggol saat alat pengering beroperasi hingga memicu kebocoran gas dan kebakaran. Beruntung, api berhasil dipadamkan tanpa kendala dan tidak menimbulkan korban jiwa.

Petugas pemadam meminta pengelola segera membenahi instalasi gas sebelum dapur kembali dioperasikan.

“Gas sangat berbahaya kalau sampai bocor lagi,” kata Sony.

(Red-Suarasatu)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama